Luhut Blak-blakan Ungkapkan Dibalik Kedekatan Ekonomi Pemerintahan Jokowi dengan China

Editor: Barometer99

Barometer99.com, JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan blak-blakan mengenai pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo yg lebih condong ke China dibandingkan dg Amerika Serikat (AS). 

Hal itu diungkapkannya saat menerima kunjungan CEO United States International Development Finance Corporation (IDFC) Adam Boehler (23/10).

“Saya terbuka, jujur menyampaikan kepada Adam Boehler, hubungan Indonesia dengan China sangat bagus. Saya juga mengatakan kepada Adam, bahwa hubungan dengan Amerika juga bagus, tapi baru satu tahun terakhir,” ujar Luhut saat memberi pengarahan dan sosialisasi terkait Omnibus Law UU Cipta Kerja di Lemhannas Jumat (23/10/2020).

Adam Boehler adalah orang dekat Predisen AS Donald Trump. Boehler sebelumnya bergabung dengan Partai Demokrat. Namun, sejak Trump menjabat Presiden, dia merapat ke Partai Republik. 

Kemudian Boehler diberi mandat untuk menjadi CEO IDFC. IDFC merupakan lembaga pembiayaan investasi yang berfokus pada investasi di negara-negara berkembang. Dibentuk atas mandat Kongres Amerika Serikat, lembaga baru ini disebut-sebut akan menyaingi BRI China.

Lebih lanjut, Luhut menyampaikan bahwa sebelumnya Indonesia tidak punya kontak dekat dengan para pejabat Amerika sehingga untuk kepentingan investasi pemerintah melakukan pendekatan kepada China.

“Sebelum-belumnya kita tidak punya kontak dengan Amerika. Tidak punya, ‘ya karena kalian susah ditemui, ya sudah saya juga marah dengan kalian’, minta-minta waktu ketemu, ditemuinya sama wakil menteri, ya tidak mau saya. Ya sudah kita ke China, jadi jangan salahkan kami,” demikian Luhut menceritakan kepada Boehler.

Namun, dalam pertemuan tersebut Luhut menyampaikan bahwa kiblat kerja sama Indonesia saat ini sudah bergeser ke Amerika, khususnya dalam setahun terakhir.

“Yaudah sekarang kami berubah, Indonesia menjadi strategic partner Amerika. Jadi sebenarnya bagaimana berdiplomasi itu penting, kita harus tau, kita ini sakti, negara yang tidak bisa dilecehkan,” terang Luhut.

Menurut Luhut, Indonesia saat ini cukup diperhitungkan oleh dua raksasa dunia, China dan Amerika, seiring dengan perseteruan mereka dari sisi ekonomi dan politik. Oleh sebab itu, pemerintah akan memainkan peran kekuatan penyeimbang.

“Jadi balance of power itu penting. Jumlah penduduk kita terbesar setelah China, India, dan Amerika. Dari sisi ekonomi tidak jauh, kita kaya dari hasil bumi. Kalau dikelola bagus jadi power kuat. Jadi negosisasi dengan mereka harus sama,” tambahnya.

Sebagai informasi, investasi China di Indonesia dibawah pemerintahan Jokowi mengalami peningkatan signifikan. Menurut data realisasi investasi asing triwulan ketiga 2020, AS yang selalu terlempar dari posisi lima besar, berada di posisi ketujuh dengan nilai investasi USD 0,3 miliar atau selisih lebih kecil sekitar USD 0,8 miliar dengan China yang menduduki posisi kedua.

Kunjungan Adam Boehler kali ini merupakan yang kedua kalinya ke Indonesia. Pada awal tahun ini, ditemani Luhut, Bohler menyambangi Presiden Jokowi di Istana. Kala itu IDFC dilaporkan akan berinvestasi di bidang infrastruktur. Bahkan, IDFC menyiapkan dana hingga US$10 miliar.

Kali ini, Boehler membahas mengenai peluang investasi di Lembaga Pengelola Investasi atau Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia. SWF Indonesia akan dibentuk setelah adanya Peraturan Pemerintah turunan dari UU Cipta Kerja yang telah di sahkan oleh DPR awal Oktober lalu.

Adam Boehler menyampaikan optimismenya terhadap regulasi penting ini sebagai sebuah terobosan baru untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia, mengingat selama ini regulasi di Indonesia masih banyak yang tumpang tindih dan seringkali membingungkan tidak hanya investor lokal, tetapi juga investor dari negara lain.

Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan juga bertemu Duta Besar AS yang baru, Sung Yong Kim di kediamannya. Dalam pertemuan tersebut, Luhut menyampaikan harapan peningkatan kerja sama strategis bilateral kedua negara. Terutama di sektor investasi infrastruktur, energi dan konektivitas.

laporan : Yuli L/Rilis.

editor    : Herbi.

Share:
Komentar

Berita Terkini