Demi Bela Rasulullah Bupati Mursil, Jangankan Jabatan, Nyawapun Siap Dikorbankan

Editor: KORWIL ACEH
Bupati Aceh Tamiang, H. Mursil SH. M.Kn, Ketika Menyampaikan Orasinya.
(Barometer99.com - Aceh)

Aceh Tamiang - Barometer99.com
Seruan Aksi Bela Rasulullah yang tergabung dalam Gerakan Aksi Umat Islam Aceh Tamiang, bersatu menyuarakan rasa sedih dan sakit hati atas penghinaan yang diberikan Presiden Perancis terhadap Nabi Besar Muhammad SAW. Seruan Aksi berlangsung di Depan Kantor Bupati Aceh Tamiang usai Shalat Jum’at di pimpin oleh para Pimpinan Dayah, Tokoh Masyarakat, Jama’ah Pengajian Al-Jami’yatul Washliyah, Tokoh Pemuda, Tokoh Ulama serta masyarakat dan Santri-santri dari Pesantren-pesantren yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang.Tampak ribuan massa aksi bela Rasulullah mengumandangkan takbir dan Shalawat Nabi dengan penuh suka cita. Kobaran semangat yang membara mengecam aksi Presiden Perancis tersebut, disampaikan dalam orasi-orasinya.

Dalam kesempatan tersebut, tampak Bupati Aceh Tamiang H. Mursil, SH, M.Kn turut bergabung bersama pimpinan-pimpinan aksi. Dengan menggunakan pengeras suara, Bupati Mursil menyatakan dukungannya terhadap aksi ini.

“Jangankan Jabatan, nyawapun harus kita korbankan ketika Rasulullah SAW kita dihina. Terus semangat dalam membela Islam, membela Nabi, dan jangan sampai hanya berhenti disini mari kita sebarkan kepada masyarakat jangan membeli produk dari Perancis lagi, banyak produk lain yang masih bisa dibeli,” Orasi Bupati Mursil dengan semangat dan lantang.

“Hari ini saya mendapat kabar dari teman saya di Jakarta, produk Danone sudah bangkrut. Ini menandakan jika umat Islam diseluruh Indonesia bersatu maka Negara Perancis akan bangkrut. Kita tidak bisa melawan dengan senjata namun kita dapat melawan secara ekonomi, maka Allah tunjukkan kuasa-Nya, ini merupakan bukti nyata dari melawan Islam, melawan Nabi kita Muhammad SAW. Pemerintah jelas sangat mendukung aksi ini dan berita ini akan saya kirim ke Jakarta agar mereka tau bahwa Aceh Tamiang, Kabupaten pertama yang memboikot produk Perancis. Setelah ini kita akan membicarakan kembali dengan DPRK Aceh Tamiang mengenai pemboikotan produk Perancis,” lanjut Bupati Mursil di akhir orasinya.

Selaras dengan yang disampaikan oleh Bupati Mursil, Ketua MPU Aceh Tamiang, Wakil Ketua I DPRK Aceh Tamiang maupun Ketua FPI Aceh Tamiang turut mengecam keras penghinaan Nabi Muhammad SAW ini. Tentunya menjadi kewajiban bersama kita membela Islam dan Nabi Muhammad SAW. Malu lah ketika kita diam saja tidak melakukan apapun, dan kehadiran para aksi ini telah menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Secara bergantian para orator dalam orasinya menyampaikan kekecewaan dan rasa sakit hati atas tindakan Presiden Perancis Emanuell Macron yang menghina dan melecehkan Rasulullah SAW.

“Kami saat ini berada disini menunjukkan kecintaan kami kepada Rasulullah SAW, kami siap membela Rasulullah, siap mati demi Rasulullah, kami tidak terima Rasulullah SAW yang merupakan suri tauladan umat hingga akhir zaman dihina. Untuk itu kami menuntut agar Pemerintah Daerah terutama Bupati Aceh Tamiang untuk bertindak tegas turut memboikot segala produk perancis yang beredar di Aceh Tamiang,” terangnya dalam orasi.

Dalam orasi lainnya juga mengatakan siapa yang mencintai Rasulullah maka akan bersama Rasul di Syurga nanti.

Karikatur Nabi Muhammad SAW bukanlah seni maupun apresiasi melainkan penghinaan dan ujaran kebencian terhadap Islam. Maka dari itu, harus siap memboikot segala produk yang berasal dari Perancis.

Adapun tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut ialah meminta dan mendesak Bupati dan Forkopimda Aceh Tamiang untuk mengeluarkan Surat Edaran dan segera memboikot semua produk-produk asal Perancis yang ada di Aceh Tamiang. selanjutnya meminta untuk menyetop masuknya barang-barang produk asal Perancis ke Aceh Tamiang, dan juga mendesak Presiden RI untuk memutuskan hubungan diplomatik Indonesia dan Perancis serta meminta untuk memberikan sanksi terhadap oknum yang melanggar aturan.

Laporan : Kaperwil Aceh
Editor     : Korwil Aceh
Share:
Komentar

Berita Terkini