Tim P2 Bea Cukai Langsa Amankan ±100 Karung Bawang Merah Ilegal di Kabupaten Aceh Tamiang

0 Comments

 
Barometer99.com - Aceh Tamiang Tim Reaksi Cepat Bea Cukai Langsa kembali berhasil melaksanakan
penindakan terhadap sebuah mobil Mitsubishi L-300 di Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Sabtu, 20 Februari 2021.
Ditemukan dari hasil penindakan mobil kali ini terdapat ±100 karung bawang merah ilegal (dengan perkiraan masing-masing karung seberat ±20 kg) yang diduga berasal dari Thailand (impor) dan tidak dilengkapi dengan dokumen kepabeanan.

Kepala KPBBC TMP - C Langsa, Tri Hartana mengatakan, Berawal dari  Tim Penindakan dan Penyelidikan (P2) Bea Cukai Langsa, mendapatkan Informasi bahwa Sekitar pukul 07.00 WIB, adanya kapal yang melakukan kegiatan bongkar-muat barang impor bawang merah berasal dari Thailland di wilayah Sungai Kuruk, Tamiang, Ujarnya.

Selanjutnya Tim P2 melakukan penyelidikan dan mendalami akan informasi tersebut, akhirnya kembali dapat di kembangkan bahwa adanya 1 mobil jenis pick up merk Mitsubishi L-300 yang terparkir di salah satu rumah yg dicurigai sebagai tempat penimbunan bawang tersebut, Ungkapnya.  

Setelah Tim P2 berhasil memastikan bawang eks impor tersebut berada dalam mobil L300 dan mengetahui bawang tersebut akan dibawa ke sekitar kota Langsa, Setelah berkoordinasi, Tim P2 melakukan pengejaran terhadap mobil L300 tersebut, selanjutnya Tim memberhentikan mobil tersebut di sekitar daerah Tanah Merah, Desa Pantai Balai, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Terangnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui mobil yang di kendarain oleh seorang oknum  kedapatan mengangkut bawang merah eks impor tanpa dilengkapi dengan dokumen kepabean, Selanjutnya pelaku bersama barang hasil penindakan (sarana pengangkut berupa mobil & bawang merah) dibawa ke kantor Bea Cukai Langsa informasi dan penanganan lebih lanjut, Imbuhnya.

Adapun sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyelundupan barang impor diatur dalam Pasal 102  huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan, yaitu: “Setiap orang yang mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes dipidana karena melakukan penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah).

Tri Hartana, juga menambahkan, Upaya penindakan kali ini merupakan bukti keseriusan dan kegigihan Bea Cukai dalam memberantas barang-barang ilegal dan menutup pintu masuk para penyelundup ke wilayah Indonesia. Tidak hanya untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya barang-barang ilegal yang tidak memenuhi ketentuan perundang-undangan, melainkan upaya nyata Bea Cukai dalam mengamankan penerimaan negara, Pungkasnya.(JBI)

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 Comments: