KAGAMA Care NTB Kembali Melaksanakan Bakti Sosial “Canthelan”
Barometer99, NTB -
Musibah Pendemi Covid-19 adalah tanggung jawab semua pihak, untuk bersinergi saling membantu antar sesama dalam upaya meringankan beban masyarakat yang terdampak. Hal ini yang dilakukan oleh KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada) melalui KAGAMA Care di NTB. 10/06-2020
KAGAMA Care NTB telah melakukan beberapa kegiatan sosial beberapa waktu yang lalu dengan membagikan sembako kepada kaum dhuafa, dalam rangka turut meringankan beban masyarakat serta ingin mengajak masyarakat yang berkeinginan membantu sesama. Pada kesempatan bakti sosial kali ini KAGAMA melaksanakan kegiatannya di lingkungan Taman Seruni, Kelurahan Taman Sari Ampenan Kota Mataram.
Dalam sambutan Kepala Lingkungan Taman Seruni Ustadz Kamaluddin. S. Ag menyampaikan Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas terpilihnya Lingkungan Taman Seruni sebagai tempat pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan oleh KAGAMA NTB. Ternyata sampai saat ini KAGAMA masih tetap eksis di NTB, celotehnya.
Pada kesempatan yang sama Lurah Taman Sari juga menyampaikan perihal tentang keadaan lingkungan pada Kelurahan Taman Sari Kecamatan Ampenan, bahwa sampai hari ini sejak awal covid-19 di lingkungan kita ini luar biasa hebohnya, hari ini kasus Covid-19 ini sudah Nol atau sudah tidak ada masyarakat yang terjangkit pendemi Corona. Alhamdulillah Kelurahan Taman Sari dipilih sebagai tempat kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh KAGAMA NTB, tutur Arief.
KAGAMA merupakan sebuah wadah perkumpulan silaturahmi para Alumni Universitas Gadjah Mada yang sudah berjalan cukup lama bahkan memiliki perwakilan di seluruh Provinsi di Indonesia, sejak KAGAMA berdiri dari tahun 1958 para pentolan alumni Universitas Gadjah Mada sudah melakukan kiat-kiat sosial di masyarakat. Sebagai bentuk aplikasi dari ilmu serta pendidikan yang mereka dapat selagi masih kuliah dulu.
Ketua KAGAMA Care NTB Ir. Zainal Abidin, M. Si, menerangkan bahwa KAGAMA Care dulu pada saat terjadi gempa bumi di NTB membentuk KAGAMA Peduli Gempa NTB bahkan lahirnya pun di Taman Sari ini di rumah pak Waluyo dan disambut antusias oleh kawan-kawan dari UGM serta perkumpulan Alumni UGM di seluruh dunia. Banyak sekali yang dapat kita perbuat itu, kebetulan yang terkena dampak saat itu adalah kita di NTB sama Palu, tutur ketua KAGAMA Care NTB yang akrab disapa Bang Abe.
Dari sumbangan-sumbangan yang terkumpul kami bisa membangun sekolah, masjid, RTG, serta fasilitas umum lainnya. Itu semua merupakan sumbangan dari kawan-kawan UGM di seluruh Indonesia, terutama dari Timur Tengah yang paling banyak menyumbang saat itu, lanjut Bang Abe.
Dalam kesempatan bakti sosial KAGAMA Canthelan tersebut hadir pula kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, juga merupakan salah satu anggota gugus tugas covid-19 dan sekaligus salah satu sesepuh dari alumni UGM di NTB.
Canthelan ini adalah bahasa Jawa, istilah kita gantungan. Adalah salah satu bentuk kepedulian kita terhadap sesama dan masyarakat yang mungkin berdampak Covid-19, tapi tetap kita memakai istilah “ tangan kanan memberi tangan kiri tak perlu tahu “ niat ikhlas sedekah, taruh siapa saja yang mau ambil Insya Allah berkah. Kami sangat bangga diadakannya kegiatan Canthelan di Lingkungan Taman Seruni ini, kalau dilihat dari sisi nilai mungkin tidak seberapa, tapi justru nilai yang tidak seberapa itu terkadang bagi masyarakat yang membutuhkan tentu sangat luar biasa, kata Eka.
Yang paling utama kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari, maka yang di Canthelkan disini adalah kebutuhan sehari-hari. Minggu depan dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB akan launching isolasi mandiri yang benar-benar mandiri, selama ini banyak orang atau masyarakat yang ketakutan kalau ada salah seorang masyarakat kita yang terpapar corona sehingga jadi heboh. Karena kita juga tidak tahu kapan akan berakhirnya pendemi Covid-19 ini maka kita mencanangkan minggu depan secara bertahap. Dan kami berharap masyarakat mulai berdamai dengan Covid-19 serta menerima saudara-saudara kita yang positif, tutup Eka.
Program isolasi mandiri ini tidak akan bisa berjalan maksimal jika masyarakat bisa menerima pasien yang positif di lingkungannya. Kita tetap mengutamakan protokol Covid-19, tetap memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak serta menerima saudara-saudara kita yang terpapar Covid-19. (YD)
.png)

0 Comments: